sman2balige.sch.id

  • Besarkan font
  • Font Normal
  • Kecilkan font
Home Berita
News

Mohon Maaf

KAMI MEMOHON MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN MENGGUNAKAN WEBSITE INI. WEBSITE INI MASIH DALAM PERBAIKAN SETELAH ADA TANGAN-TANGAN JAHIL YANG MENJAHILINYA.

 

PENGUMUMAN DAFTAR ULANG

 

PENGUMUMAN

1. DAFTAR ULANG CALON SISWA BARU SMA NEGERI 2 BALIGE TAHUN PELAJARAN 2010/2011 ;

HARI : KAMIS S.D. SABTU

TANGGAL : 24 S.D. 26 JUNI 2010

WAKTU : PUKUL 08.00 S.D. 13.30 WIB

TEMPAT : SMA NEGERI 2 BALIGE

2. PADA WAKTU PENDAFTARAN ULANG CALON PESERTA MEMBAWA :

a. SKHUN SEMENTARA YANG ASLI

b. FOTOCOPY SKHUN YANG DILEGES 2 LEMBAR

c. PASPHOTO HITAM PUTIH 3 X 4 = 6 LBR

d. BERKAS DIMASUKKAN KEDALAM MAP (BIRU UNTUK SISWA, MERAH UNTUK SISWI).

PEMBEKALAN SISWA BARU :

HARI : JUMAT S.D. SABTU

TANGGAL : 9 S.D. 10 JULI 2010

PUKUL : 08.00 WIB S.D. SELESAI

TEMPAT : SMA NEGERI 2 BALIGE

SISWA YANG TIDAK MENDAFTAR ULANG SAMPAI DENGAN HARI SABTU, 26 JUNI 2010 DIANGGAP MENGUNDURKAN DIRI SEBAGAI SISWA BARU SMA N. 2 BALIGE.

 

 

Pengembangan Profesi Untuk Pembelajaran Berbasis TIK

Tujuan institusional SMA ialah mempersiapkan siswa untuk hidup mandiri dan melanjutkan pendidikan ke jejang yang lebih tinggi.  Kompetensi lulusannya menunjukkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian yang mantap dan mandiri, berakhlak, berketerampilan. Setiap indikator mutu pada kompetensi yang hendak sekolah wujudkan menjadi bagian dari sasaran peningkatan mutu. Pengembangan kegiatan pembinaan selalu mengarah pada bagaimana siswa memperoleh pengetahuan sebagai dasar untuk meningkatkan daya saing agar dapat melanjutkan pendidikan dan bersamaan dengan itu mereka juga memperoleh keterampilan yang berguna untuk meningkatkan mutu hidupnya.

Poros utama yang menjadi penggerak peningkatan mutu kompetensi siswa di sekolah ialah mewujudkan tujuan institusi melalui peningkatan efektivitas suasana dan proses pembelajaran. Karena yang paling bertanggung jawab dalam melaksanakan poros kegiatan itu, yang menyebabkan roda sekolah bergerak dinamis ialah guru, maka peningkatan mutu guru menjadi fokus yang yang utama. Pembelajaran  yang efektif, kreatif dan inovatif bergantung pada seberapa kuat guru menguasai pengetahuan dan keterampilan terbaiknya.

Dalam era  teknologi informasi dan komunikasi faktor lain yang sangat berpengaruh signifikan ialah seberapa tinggi guru menguasai pengetahuan dan keterampilan menerapkan tenologi informasi dan komunikasi. Guru yang tidak mengintegrasikan diri dengan teknologi bekerja lamban, sedangkan guru yang bersinergi dengan TIK kecerdasannya dan kapasitas kerjanya akan jauh lebih besar.

Pengelolaan Pembelajaran dan Pebelajaran

Pada Sistem pembelajaran terdapat dua bidang yang perlu dibedakan. Pertama mengenai bagaimana pendidik mengelola pembelajaran. Pada komponen ini pendidik   hendaknya memahami dan dapat menerapkan fungsi-fungsi manajemen. Tujuannya bagaimana guru meningkatkan kesiapan melalui penyusunan rencana, mendisain pelaksanaan, dan mengembangkan sistem evaluasi dalam membantu siswa meningkatkan keunggulannya. Teknologi informasi dan komunikasi mendukung pelaksanaan tugas guru dari sisi dukungan administrasi akademik.

Sekolah dapat memfasilitasi guru mencapai tujuan mengajar dan bagaimana guru mengembangkan sistem perencaan KTSP, mendokumentasikan KTSP; menetapkan tujuan, indikator, target dan kriteria kinerja belajar mengajar; mengelola kelas, mengelola administrasi pembelajaran dengan dukungan sistem administrasi yang kuat. Tekonologi infomasi dan komunikasi meningkatkan keunggulan dalam mengembangkan sistem informasi manajemen pembelajaran sehingga memfasilitasi guru dan siswa  mewujudkan berbagai keunggulan yang diharapkannya.

Teknologi informasi dan komunikasi terkait erat pada bagaimana merekam, mendokumentasikan, dan menyediakan informasi sebagai bahan pengambilan keputusan dalam menetapkan kebijakan sekolah.

 

Sumber Biaya Sekolah, Profil Yang Buram

Pendahuluan

Pemerintah wajib menetapkan kebijakan pendidikan yang dapat menjamin pemerataan kesempatan, peningkatan mutu, peningkatan relevansi dan efisiensi manajemen. Empat pilar kewajiban penjamin mutu pendidikan tersebut wajib pemerintah jalankan agar mampu menjamin bangsa ini untuk beradaptasi dalam menghadapi tantangan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Salah satu kewajiban pemerintah yang mendukung keempat pilar utama tersebut adalah menetapkan kebijakan dan menyediakan anggaran agar pembaharuan pendidikan nasional dapat terbina secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Dalam hal ini pemerintah juga perlu menetapkan regulasi tentang siapa yang harus menanggung biaya pendidikan, mengingat tanggung jawab pendidikan terletak di tangan orang tua, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat .Berkaitan dengan sistem anggaran, hasil studi kepustakaan dari tim Universitas Maryland yang dipimpin oleh Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya menyimpulkan bahwa salah satu indikator sekolah efektif ialah sekolah yang memiliki sumber dana kuat, melakukan investasi berkelanjutan, dan mengalokasikan dana  secara efektif. (www.education.umd.edu/k-16/effective Schools.html, /09/2009).

Kekuatan sumber dana terletak pada kepastian dan kecukupan sesuai dengan kebutuhan sekolah dapat berkembang dan adaptif terhadap perubahan jaman sehingga menjamin lulusan dalam bersaing dalam kehidupan lokal, nasional dan global.

Orang Tua Sebagai Sumber Anggaran Yang Kuat

Sejarah membuktikan bahwa orang tua siswa merupakan sumber dana yang kuat. Besarnya kekuatan itu menunjukkan daya dalam menopang percepatan pembaharuan pada beberapa sekolah swasta yang telah mampu mengelola mutu sehingga dapat menjadi pengharapan bagi masyarakat berada. Perkembangan ini terjadi sampai tahun 1980-an, dimana di berbagai kota terdapat sekolah swasta tempat berkumpulnya masyarakat berada dengan tingkat partisipasi pembiayaan orang tua siswa yang terus meningkat.

 

Membangun Kultur Mutu : Gantungkan Cita-citamu Setinggi Satelit


Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Pernyataan itu sangat populer pada tahun 1960-an — ketika penulis masih belajar di SD, guru-guru suka sekali menggunakannya–semula Bung Karno menggunakan untuk menyemangati perjuangan bangsa. Slogan yang sangat ideal,  seperti besarnya cita-cita bangsa Indonesia yang ikut menjaga ketertiban dunia. Sebagian orang menilai itu terlalu tinggi. Ada sebagian orang yang secara nyata menyampaikan sikap pesimis  seihingga muncul pernyataan yang lebih bombastis bagai pungguk merindukan rembulan.

Pernyataan  Cita-cita yang Tinggi

Secara empirik bangsa yang sudah maju sangat memahami apa artinya menggantungkan cita-cita yang tinggi. Pandangan antagonis  tentang nilai relatif tingginya cita-cita yang sesuai, didapat dari satelit, dari internet, yang menggambarkan bagaimana membangun keyakinan yang tinggi, namun  realistis.

Yang unik pikiran semacam itu kita dapatkan di Departemen Pendidikan Illinois. Mereka membangun mutu pendidikan dari penguatan keyakinan sebelum melakukan tindakan pada hal-hal yang praktis.  Penetapan standar (http://www.isbe.net /profprep/PDFs/ipts.pdf) professional pendidik dilandasi dengan tujuh keyakinan, yaitu  yakin bahwa:

  • Seluruh siswa memiliki potensi dapat mempelajari materi ajar yang disusun dengan ketat serta dapat mencapai prestasi yang tinggi.
  • Seluruh siswa terjamin mendapat lingkungan belajar yang kondusif sehingga siswa dapat belajar.
  • Seluruh siswa menadapat pelayanan belajar unggul dengan jaminan seluruh pendidik menerapkan pembelajaran berstandar dan peluang berkembangnya pengetahuan dan keterampilan siswa.
  • Aktivitas pembelajaran yang berdisiplin mengaitkan ide dengan pengalaman personal, loingkungan, dan komunitas siswa.
  • Pendidik yang professional dapat berperan dalam kelas,  bertanggung jawab dalam bekerja bekerja sama dengan profesi lain, dengan orang tua siswa, mengembangkan sekolah sebagai organisasi belajar, dan menggunakan berbagai sumber daya belajar sehingga menjadi teladan para siswa.
  • Pendidik yang professional dapat mengembangkan proses yang dinamis dari mulai perencanaan hingga melaksanakan sampai pada kegiatan memantau hasil belajar bersama sejawat dalam menerefleksikan pelaksanaan tugas berbasis ilmu pengetahuan.

Keyakinan yang berubah jadi prestasi

Pada saat mengujungi SMAN 1 Singaraja Bali, penulis ingat pernah membaca teks itu pada dokumen standar salah satu negara bagian di Amerika, Keunikan lain adalah nilai-nilai keyakinan seperti yang ditulis di Illinois, muncul dalam tataran praktis di Singaraja. Keyakinan itu tidak ditulis oleh SMA Singaraja, namun mucul dari kata-kata Nyoman Darta ketika menuturkan kebersahasilannya sebagaimana ditulis Bali Pos pada bulan Septermber 2007.

Di sekolah ini tergambarkan bagaimana menerapkan standar keyakinan pendidik dan warga sekolah. Indikator bahwa sekolah mememiliki harapan yang tinggi tergambar pada prestasi nyata yang dapat diwujudkannya.

Menurut keterangan kepala sekolah dirinya sebagai kepala sekolah meraih juara satu dalam pemilihan Kepala Sekolah berprestasi tingkat nasional untuk kelompok SMA/SMK. Penghargaan diterimanya pada  HUT ke-62 RI di Jakarta, Agustus lalu. Pada saat yang sama, seorang guru SMN 1 Singaraja Putu Eka Wilantara, S.Pd., M.Pd. juga mendapat juara kedua guru berprestasi tingkat nasional.

Wilantara adalah guru fisika yang banyak melahirkan siswa berprestasi dalam lomba-lomba fisika di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Dalam ajang kompetisi di tingkat provinsi, Iska Novi Udayani dan Ketut Ariadi mengukuhkan diri sebagai juara untuk siswa berprestasi. Iska meraih juara satu, dan Ariadi berada di tempat kedua untuk kategori siswa putra. ”Dua siswa ini tak diikutkan dalam lomba sejenis di tingkat nasional karena keterbatasan dana,” kata Darta.

Prestasi terbaru yang diaraih  siswa-siswanya dalam Olimpiade Sains tingkat nasional di Surabaya 2-8 September 2007. SMAN 1 Singaraja mengirimkan 13 peserta, yakni bidang fisika 3 siswa, matematika 4, kimia 3, biologi 2 dan astronomi 1 siswa. Dari ajang olimpiade itu, dua siswa berhasil memperoleh medali perunggu atas nama Made Adi Satria Darma di bidang fisika dan Andika Metrisiawan bidang kimia.

Yang paling prestisius adalah perolehan medali emas di bidang biologi dalam Pesta Sains yang digelar di IPB Bogor 7-9 September 2007. Atas prestasi itu, tim SMAN 1 Singaraja yang terdiri atas Kadek Yuda Prawira, Gede Wirata dan Nyoman Agus Setiawan berhak membawa pulang Piala Menteri Pendidikan Nasional yang cukup megah itu.

Pada kesempatan terakhir penulis mengunjungi  SMAN 1 Singarja tahun 2009, kepala sekolah menyampaikan bahwa tiap tahun sekolahnya meraih prestasi tingkat nasional dalam bidang karya tulis. Yang membanggakannya adalah prestasi itu diraih oleh kepala sekolahnya, pendidiknya, dan pasti oleh siswa. Di samping  itu, ada 11 siswa yang mewakili provinsi Bali yang dalam olimpiade sains tingkat nasional.

Budaya yang unik adalah dalam pengembangan sekolah berbasis data. Pengalaman saat berkunjung yang pertama ketika saya melakukan monitoring adalah data kinerja sekolah dengan menggunakan alat ukur instrument evaluasi kinerja tahun 2007, lengkap dengan laporan kemajuan yang dicapai hingga saat itu.

Data itu pula yang sekolah gunakan untuk menguatkan keyakinan. Catatan prestasi yang dapat sekolah wujudkan yang didukung dengan data perkembangan proses telah menjadi modal pengembangan semangat membangun cita-cita yang tinggi. Hasilnya kepuasan dan kebanggaan.

Sekolah Tanpa Keyakinan Yang Tinggi

Secara empirik dari hasil kunjungan ke berbagai sekolah bahwa tingkat keyakinan dalam bentuk optimisme mencapai target tinggi sangat bergantung pada tinggi rendahnya kebiasaan kepala sekolah mengumandangkan cita-citanya.

Pada sekolah yang daya bangkitnya rendah terdapat kepala sekolah yang rendah pula cita-citanya, banyak berkeluh kesah tentang sumber daya yang sekolah miliki. Pada beberapa kasus kepala sekolah tidak memiliki keyakinan yang kuat bahwa di atara sekian banyak siswanya dapat berprestasi tinggi. Ditemukan pula kepala sekolah yang berargumentasi bahwa rendahnya standar prestasi sekolah akibat dari input siswanya yang rendah juga guru-gurunya yang kurang kreatif.

Cara pandang seperti itu cenderung merata di sekolah yang menerima murid pada level bawah memiliki stigma bahwa siswa yang memiliki nilai akademik rendah kecil kemungkinannya berprestasi tinggi.

Stigma berpikir seperti itu cenderung memiliki karakter seperti virus. Kondisinya menular dengan cepat sehingga sekolah cenderung menetapkan target selalu rendah. Memiliki ketakutan untuk menetapkan target tinggi. Kondisi yang memprihatinkan ini diperparah dengan karakter umum guru. Menurut hasil penelitian (Ross Miller,  2009- http: //www. greaterexpectations.org/briefing_papers/ImproveStudentLearning.html) harapan yang selalu dikumandangkan itu berpengaruh pada prilaku guru maupun siswa.

Hasil studi Personal author, compiler, or editor name(s); click on any author to run a new search on that name.Rubie-Davies, Christine M. yang dipublikasikan pada British Journal of Educational Psychology menyatakan dengan tegas bahwa  keyakinan guru terhadap siswa dalam kelas berpengaruh pada prestasi siswa.

Stigma negative yang muncul dalam bentuk pernyataan pimpinan sekolah yang pesimistik berpengaruh pada rendahnya target mutu yang sekolah tetapkan, rendahnya keyakinan guru dan siswa yang akhirnya berpengaruh pada rendahnya prestasi siswa.

Keyakinan yang tinggi berpengaruh pada raya percaya diri, seperti atlit bulu  tangkis atau tenis, kemenangan harus diperjuangkan dalam kondisi yang sangat kritis pada adu  kekuatan fisik dan mental yang sangat ketat, saat posisi angka masing-masing sama pada mendekati game point, maka di sini  rasa percaya diri dan sekaligus keyakinan untuk menang.

Masalahnya di sini adalah “Bagaimana kita dapat mengetahui tinggi rendahnya keyakinan sekolah terhadap berbagai hal yang diprogramkannya?”. Jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah ” sekolah sebaiknya melaksanakan evaluasi”. Pengawas atau tim yang dibentuk sekolah menerapkan sistem penjaminan dengan menggunakan istrumen penjaminan budaya mutu. Instrumen itu digunakan untuk memantau  tinggi rendahnya standar keyakinan dengan tujuannya untuk mengetahui seberapa tinggi target mutu ditetapkan. Melalui hasil pemantauan itu sekolah dapat mengetahui seberapa tinggi keyakinan sekolah terhadap prestasi yang dapat pendidik dan siwa wujudkan.

 

Kesimpulan

Salah satu hal yang amat penting dalam meningkatkan standar mutu, sekolah perlu membangun keyakinan bahwa siswa, guru, bahkan kepala sekolah dapat berprestasi tinggi. Keyakinan itu harus secara sistematis dikembangkan melalui perlakuan manajemen. Tentu keyakinan yang tinggi yang tercermin pada target mutu harus didukung dengan tindaklajut pada keyakinan bahwa sekolah dapat menjadi organisasi pembelajar dan memperjuangkan pernyataan yang diyakininya dalam bentuk tindakan praktis dan realistis.

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Komentar Terbaru

Shoutbox