Sebanyak 200 sekolah menengah atas (SMA) dirintis menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI). Penyelenggaraan rintisan SMA bertaraf internasional ini dimaksudkan untuk mendongkrak mutu pendidikan di Indonesia agar mampu bersaing secara internasional.
Sebanyak 200 sekolah menengah atas (SMA) termasuk SMA Negeri 2 Balige dirintis menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI). Penyelenggaraan rintisan SMA bertaraf internasional ini dimaksudkan untuk mendongkrak mutu pendidikan di Indonesia agar mampu bersaing secara internasional. Ditargetkan, sebanyak lebih dari 500 sekolah bertaraf internasional akan tersebar di seluruh Indonesia.
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo mengatakan, selain untuk meningkatkan mutu pendidikan, program ini juga untuk menghasilkan mutu lulusan yang diakui dan setara dengan tamatan sekolah pada negara-negara Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) atau negara maju lainnya. "Secara struktural dan kultural SMA harus berubah total. Tidak bisa kita melestarikan yang mapan," katanya pada pembukaan Workshop Pengembangan Rintisan SMA Bertaraf Internasional di Graha Utama, Depdiknas, Jakarta, Kamis (17/4/2008).Hadir pada acara Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Mandikdasmen) Depdiknas Suyanto, Direktur Pembinaan SMA Sungkowo, Direktur Pembinaan SMP Hamid Muhammad, dan para kepala sekolah dan penanggung jawab program rintisan SMA bertaraf internasional. Pengembangan SBI diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) bekerjasama dengan pemerintah daerah dan juga masyarakat.
Bambang menjelaskan, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa Pemerintah dan atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. "Setiap kabupaten atau kota harus memiliki minimal satu SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA, serta SMK yang bertaraf internasional, " katanya.
Program rintisan SBI telah dimulai sejak tahun 2006 di sebanyak 100 sekolah dan tahun 2007 sebanyak 100 sekolah. Adapun indikator kinerja kunci (IKK) rintisan SMA bertaraf internasional antara lain adalah sekolah terakreditasi A secara nasional, menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dengan sistem kredit semester (SKS), sistem akademik berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan muatan mata pelajaran setara atau lebih tinggi dari mata pelajaran yang sama pada sekolah unggul negara OECD.
Indikator lainnya adalah menerapkan standar kelulusan yang lebih tinggi dari standar kompetensi lulusan (SKL) yang ada di dalam standar nasional. Berikutnya, proses pembelajaran suatu mata pelajaran menjadi teladan sekolah atau madrasah lainnya terutama dalam pengembangan akhlak mulia, budi pekerti, dan kepribadian unggul. "Bukan hanya cerdas otaknya saja, tapi hatinya juga cerdas," kata Bambang.
Selain itu, kata Bambang, pendidik memenuhi standar pendidikan. Untuk SMA minimal 30 persen guru berpendidikan S2 atau S3 dari perguruan tinggi (PT) yang program studinya berakreditasi A, sedangkan tenaga kependidikan seperti kepala sekolah minimal berpendidikan S2 dari PT yang program studinya berakreditasi A.
Bambang menambahkan, dari sisi sarana prasarana harus dilengkapi perpustakaan yang tersambung ke Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) dan internet, dilengkapi ruang multimedia dan klinik. Sementara, dari sisi pengelolaan agar meraih sertifikat ISO 9001:2000 tentang tata kelola dan ISO 14.000 tentang lingkungan.
Saat ini, kata Bambang, sebanyak 212 SMK telah meraih sertifikat ISO 9001:2000, sedangkan ISO 14.000 diterapkan agar guru dan peserta didik sadar bahwa masalah lingkungan adalah bagian dari kehidupan. "Kita ingin rintisan sekolah berstandar internasional menerapkan standar pengelolaan lingkungan," katanya.
Sekolah, lanjut Bambang, diharapkan menjalin hubungan sister scholl dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri. Sekolah juga harus bebas narkoba, rokok, dan kekerasan. "Jangan sampai ada bullying. Kita menginginkan rintisan sekolah berstandar internasional menjadi sekolah teladan dalam segala aspek penyelenggaraan sekolah," tegasnya.
Adapun mata pelajaran yang diajarkan berupa aplikasi contoh. Bahasa dasar yang digunakan untuk mata pelajaran sain dan matematika adalah Bahasa Inggris. Namun, selain sain dan Matematika, pelajaran lainnya harus tetap menggunakan Bahasa Indonesia. "Hal ini harus dilakukan agar jangan sampai kehilangan jati diri dengan tidak menggunakan Bahasa Indonesia," jelasnya.
Sementara, lanjut Bambang, para siswanya diharapkan mampu meraih medali tingkat internasional pada berbagai olimpiade sain, matematika, teknologi, seni, dan olah raga. Sementara dalam penyelenggaraan sekolah juga menerapkan prinsip kesetaraan gender. "Bukan secara kuantitatif saja, tetapi kualitatif dan secara kultural harus setara. Harus ada kultur setara gender di sekolah," tegasnya.
Mendiknas mengharapkan, pada masa mendatang Indonesia akan memperoleh lulusan-lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing baik di kancah nasional maupun internasional



Humas
Comments
Pendaftaran siswa baru,,,gmn ???? Quote
RSS feed for comments to this post.