Home

KLARIFIKASI PERISTIWA HARI MINGGU 30 JANUARI 2010 AWAL DAN AKHIR TERSESATNYA ROMBONGAN PRAMUKA SMA NEGERI 2 BALIGE

Salah satu kegiatan  kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri siswa SMA Negeri 2 Balige Tahun Pelajaran 2009/2010 adalah  kegiatan pramuka bagi siswa kelas X. Kegitan itu dinamakan co-curiculer activity (CCA) Pramuka. Kegiatan CCA pramuka tersebut telah berlangsung sejak awal tahun ajaran baru dengan rutinitas latihan dilakukan satu kali seminggu yakni setiap pada hari jumat pukul 15.00-17.00.

Salah satu kegiatan sebagai kelanjutan dan realisasi latihan yang sudah dilakukan dan  sudah direncanakan dalam program tahunan CCA pramuka adalah Cross Country. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan anak dengan lingkungan dan mempererat tali persaudaraan di antara sesama anggota pramuka.

Untuk merealisasikan program CCA Pramuka ini, pembina dengan persetujuan kepala SMA Negeri 2 Balige melaksanakan kegiatan tersebut pada tanggal 31 Januari 2010.  Untuk kesuksesan kegiatan tersebut, Kepala Sekolah dan Ketua Pembina CCA Pramuka SMA Negeri 2 Balige telah  memberitahukan dan meminta izin kepada orang tua melalui surat nomor 064/421.3 SMAN/Blg/ 2010 tanggal 29 Januari 2010 tentang Surat Izin Siswa Mengikuti Cross Country. Namun dalam perjalanan rombongan pramuka tersesat yang harusnya finish di sihail-hail ternyata finish di desa Aek Bolon. Berikut kami laporkan peristiwa tersebut kepada pihak terkait terutama Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samosir.

B.       KRONOLOGIS PERISTIWA

Route Cross Country itu direncanakan dari SMA Negeri 2 Balige – Sibodiala – BatuBasiha– Batu martindih – dan finish di Desa Sihail-Hail. Rute tersebut dipilih karena setiap tahunnya Pembina telah memandu anggota pramuka dalam kegiatan  cross country melalui  rute tersebut. Kegiatan tersebut dipandu oleh Bapak Evi Maulissa, SPd. Yang bertindak sebagai ketua pembina pramuka SMA negeri 2 Balige, dibantu oleh anggota pramuka senior dari kelas XI sebanyak 12 orang. Jumlah siswa atau anggota pramuka yang dipandu sebanyak 230 orang.  Seyogyanya Pembina juga di dampingi oleh pembina yang lain, tetapi pembina-pembina yang lain berhalangan.

Pengalaman Pembina  membawa cross country anggota pramuka melalui rute itu hampir dilakukan setiap tahun dalam kurun lima tahun belakangan. Jadi Pembina yakin dengan penguasan medan rute yang sudah ditentukan dapat melaksanakan kegiatan dan memandu anggota sesuai dengan skejul yang ada.

Setelah persiapan rampung, pada tanggal 31 Januari 2010 pukul 9.00 WIB dilaksanakan start  Cross County dari kompleks SMA Negeri 2 Balige, naik ke Desa Sibodiala. Perhentian pertama rombongan di lapangan sirkuit Sibodiala. Di tempat tersebut dilaksanakan pengecekan anggota. Untuk menghormati hari Minggu,  Pukul 11.30 dilaksanakan ibadah minggu bagi anggota yang beragama Kristen dan katolik. Selesai acara ibadah dilanjutkan dengan beberapa game pramuka di tempat yang sama. Pukul 12. 30 dilanjutkan dengan acara makan siang dan istirahat. Pukul 13.30 rombongan menuju tempat Batu Basiha dan batu martindi yang berada di bukit di atas desa Sihai-hail.  Setelah sampai di tempat itu, rombongan istirahat  beberapa waktu, lalu berencana melanjutkan perjalanan rencana menuju desa Sihail-hail menuju finish. Ternyata Tanda-tanda route yang sudah dikenali  pembina selama ini tidak terlihat lagi. Jalan keluar menuju Sihai-hail yang sebelumnya  cukup  dikenal baik oleh pembina tidak ditemukan. Rombongan menemukan jalan buntu. Sambil mencari jalan keluar, pembina memberikan aba-aba istirahat pada anggota. Setelah istirahat rombongan melanjutkan perjalanan setelah mendapat petunjuk dari pembina.

Kira-kira  pukul 16.00 WIB, rombongan menemukan pertigaan. Salah seorang siswa bernama Bintang, anak daerah Sihail-hail  diminta  Pembina untuk membantu  mencari jalan keluar ke desa Sihail-hail. Namun, Bintang Sinambela yang sudah biasa berkunjung ke tempat tersebut juga tidak dapat membantu. Dalam situasi tak tahu arah lagi pembina memutuskan mengikuti jalan jejak kerbau. Pembina terus berusaha menuntun siswa menuju ke desa siahil-hail sambil terus menginstruksikan kepada seluruh anggota untuk tetap bersama-sama agar tidak ada yang terpisah dari rombongan.

Kira-kira Pukul  16.30 WIB, pembina menyimpulkan bahwa rombongan telah tersesat. Pembina  menghubungi tema-temannya yang sudah biasa berada di tempat tersebut sambil mengumpulkan siswa untuk istirahat sambil menghitung kelengkapan anggota rombongan.  Setelah mendapat petunjuk dari teman yang dihubungi melalui telepon seluler,  rombongan melanjutkan perjalanan, turun ke arah kanan dan menemukan tiga perumahan penduduk. Pembina menyadari bahwa mereka sudah di desa Aek Bolon. Pembina mengambil inisiatif menghubungi teman-temanya yang memiliki bus atau kendaraan umum untuk membawa siswa pulang ke Balige.

Dalam perjalanan menuruni bukit menuju desa Aek Bolon, pada pukul  18.00  siswi Yohana Haloho histeris lalu lemas kecapaian. Setelah disadarkan dengan pertolongan pertama,  perjalanan dilanjutkan, siswi tersebut dipapah mengikuti perjalanan kembali. Tak berapa lama kembali seorang siswi kelelahan. Siswi tersebut mengaku sudah lemas dan tak tahan lagi melanjutkan perjalanan. Pembina melakukan pertolongan, setelah sedikit membaik, siswi tersebut dipapah teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan. Di samping jalan yang becek dan menurun, perjalanan menjadi lambat karena harus membantu siswa yang sudah lemas.

Pada pukul 18. 45 akhirnya rombongan paling depan sampai pada perumahan penduduk di desa Aek Bolon. Anggota yang sudah sampai terdahulu istirahat sementara yang lain masih menuju tempat tersebut. Tiba-tiba  rombongan mendapat teguran (marah-marah) dari seorang ibu pemilik rumah karena kehadiran anggota pramuka dianggap  ribut. Disamping fisik anggota yang sudah kelelahan, peristiwa ini membuat psikologis  anggota semakin turun, akhirnya kembali beberapa siswi histeris ketakutan.

Pukul 19. 15 WIB, seluruh Rombongan tiba di perkampungan penduduk di aek bolon di pinggir jalan, Pembina melakukan istirahat sambil mengecek kelengkapan anggota setiap group.  Pada saat itulah guru-guru, pengurus OSIS, beberapa orang tua, kepala desa dan masyarakat Aek Bolon sampai di tempat dan mulai memberikan pertolongan. Setelah mengecek kelengkapan, pukul 20.30, anggota mulai dievakuasi ke Balige dengan menggunakan bus yang sudah dipesan pembina, kendaraan guru,  orang tua dan masyarakat. Proses evakuasi berlangsung lambat karena jalan menuju desa Aek Bolon macet karena banyaknya kendaraan orang tua yang akan menuju aek bolon, sementara jalan sempit.

Pukul 21.30 Seluruh siswa sudah dievakuasi dari Desa Aek Bolon. Beberapa anggota harus berdesak-desakan  dalam bus karena jumlah kendaraan yang terbatas. Akhirnya dalam perjalanan, beberapa siswa kembali lemas dan ada yang pingsan. Lalu inisiatif orang tua dan masyarkat yang ingin membantu,  siswa mendapat perawatan medis di Rumah sakit HKBP Balige. Sementara Guru-guru yang lain berbagi tugas mengantar anggota yang masih kuat  menuju  rumah orang tuanya yang di Balige maupun di luar Balige.

Kepala sekolah, Pembina, guru-guru yang baru tiba dari desa Aek bolon. Rumah sakit sudah dipenuhi orang tua, masyarakat dan siswa. Suasana terlihat begitu panas. Bermaksud mempertanggungjawabkan dan melihat siswa yang sedang dirawat di rumah sakit, kepala sekolah,Pembina pramuka, dan beberapa  guru memasuki rumah sakit. Tak lama kemudian Rombongan Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samosir tiba di rumah sakit. Kepala sekolah dan pembina bergabung dengan rombongan Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan untuk  bersama-sama menuju Zaal  Rumah Sakit tempat siswa dirawat. Beberapa orang tua yang tidak tahan melihat kondisi anaknya demikian tidak dapat membendung emosinya dan melampiaskan kemarahannya kepada kepala sekolah Ibu Cristina Sibuea dan Pembina Pramuka, Pak Evi Maulissa. Sejenak keributan terjadi, namun bentrokan fisik dapat dihindari  setelah rombongan bupati berhasil melerai kedua belah pihak. Tak berapa lama kemudian Ibu Cristina Sibuea, Kepala SMA Negeri 2 Balige, jatuh pingsan dan akhirnya mendapat perawatan pihak rumah sakit. Sementara Pembina diamankan ke tempat yang aman agar tidak menyulut amarah orang tua siswa.

Sampai pada pukul 01.00, Guru-guru SMA negeri 2 Balige masih di rumah sakit memastikan siswa yang masih membutuhkan perawatan.  Siswi yang masih membutuhkan perawatan di rumah sakit sebanyak 5 orang yakni  Trima W. Manurung kelas X.3 dan Yohana Sirait Kelas X.6 dirawat di Zaal A, Julianti Siahaan kelas X.5, Risnauli Sitinjak kelas X.6, dan Nopeigten Siagian kelas X.3 dirawat di Zaal E. Kelima siswi tersebut telah didampingi oleh keluarga. Diakhiri dengan doa, guru-guru SMA Negeri 2 Balige pulang  dari Rumah Sakit.

 

C.       TINDAKAN YANG TELAH DILAKUKAN

Mengingat Kepala Sekolah masih dalam kondisi sakit, pada hari Senin tanggal 01 Januari 2010, kegiatan upacara dilaksanakan di SMA Negeri 2 Balige. Selesai upacara, sesuai kesepakatan wakil kepala sekolah, dirasa perlu mengadakan rapat singkat bagi guru-guru untuk menyamakan persepsi terhadap peristiwa yang dialami SMA Negeri 2 Balige pada tanggal 31 Januari 2010.

Pada saat itu beberapa hal yang dicapai adalah :

1.      Kegiatan Cross Country merupakan kegiatan sekolah yang sudah tertuang dalam program tahunan OSIS SMA Negeri 2 Balige.

2.      Peristiwa  yang dialami rombongan Pramuka SMA Negeri 2 murni Musibah yakni rombongan tersesat di antara Sibodiala dengan Sihail-Hail dan terlambat mengakhiri kegiatan.

3.      Kegiatan Pembelajaran dan Kegiatan sekolah agar berlangsung seperti biasanya

4.      Memberikan informasi secara detail diharapkan melalui satu corong, yakni tim pengembang urusan Humas, namun kepada setiap guru dan tata usaha diharapkan tidak menutup diri jika ada pertanyaan yang diajukan dengan menyampaikan informasi yang benar.

5.      Siswa yang tidak hadir agar dicek keberadaannya.

D.      KEADAAN SISWA TANGGAL 1 JANUARI 2010

Setelah dilakukan pengecekan pada hari Senin, tanggal 1 Pebruari 2010 ditemukan siswa kelas X yang masih sakit sebanyak 29 orang. Pengecekan dilakukan sambil memastikan keberadaan siswa tersebut. Sesuai dengan data yang ditemukan ternyata keseluruhan siswa yang berjumlah 29 orang telah diketahui keberadaanya.

 E. KEADAAN SISWA KELAS X TANGGAL 2 JANUARI 2010

Pada hari ini Selasa 02 Pebruari 2010, setelah dilakukan pengecekan kembali terhadap siswa kelas X, ternyata yang tidak hadir sebanyak  5 orang, yakni Trima W. Manurung kelas X.3 dan Yohana Sirait Kelas X.6, Julianti Siahaan kelas X.5, Risnauli Sitinjak kelas X.6, dan Nopeigten Siagian kelas X.3. Kelima siswa tersebut adalah siswa isirahat di rumah dan rumah sakit HKBP Balige.

F. UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam kesempatan ini, atas bantuan, perlindungan dan dukungannya, kami mengucapkan terima kasih kepada :

1.      Bapak Bupati Toba Samosir

2.      Bapak Kepala Dinas Pendidikan Toba Samosir

3.      Bapak-Bapak Kabid dan Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samosir

4.      Kepala Desa dan Masyarakat Desa Aek Bolon.

5.      Uspika Kecamatan Balige

6.      Direktur dan Staf Rumah Sakit HKBP Balige

7.      Orang tua siswa

8.      Masyarakat Balige

9.      Dan seluruh komponen pemerintah dan masyarakat yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

MUDAH-MUDAHAN SEMUA ITU MENJADI SALAH SATU PERTIMBANGAN DALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN KESISWAAN PADA WAKTU BERIKUTNYA
Terakhir Diupdate ( Kamis, 04 Februari 2010 11:14 )
 

Beasiswa untuk alumni SMA 2010 dari keluarga tidak mampu.

            Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran. Hak setiap warga Negara tersebut telah dicantumkan dalam Pasal 31 (1) Undang-Undang Dasar 1945. Berdasarkan pasal tersebut, maka Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi, dan masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu diperlukan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu bagi setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya kurang mampu membiayai pendidikannya, dan berhak mendapatkan beasiswa bagi mereka yang berprestasi.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2010 meluncurkan program Beasiswa Bidik Misi untuk memberikan beasiswa dan biaya pendidikan kepada 20.000 mahasiswa dan atau calon mahasiswa dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu dan berprestasi, baik di bidang akademik/kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstrakurikuler.

Program ini sangat penting untuk memutus mata rantai kemiskinan dengan cara elegan, sehingga dimasukkan sebagai program kerja 100 hari dalam Kabinet Indonesia Bersatu II.

Agar program penyaluran beasiswa Bidik Misi dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip 3T, yaitu: Tepat Sasaran, Tepat Jumlah, dan Tepat Waktu, maka diharapkan para pimpinan perguruan tinggi dalam melakukan sosialisasi, seleksi, dan penyaluran Beasiswa Bidik Misi mengacu pada pedoman ini.

Penerbitan pedoman program beasiswa Bidik Misi ini diharapkan dapat memudahkan bagi perguruan tinggi penyelenggara agar penyaluran beasiswa kepada mahasiswa dapat tercapai sesuai dengan harapan kita semua. Selain itu pedoman ini diharapkan juga dapat memudahkan bagi para calon mahasiswa atau mahasiswa yang akan mengusulkan sebagai calon penerima beasiswa, dan memudahkan bagi mahasiswa yang telah ditetapkan sebagai penerima beasiswa untuk mendapatkan haknya.

Dengan terbitnya buku ini, proses penyaluran beasiswa kepada mahasiswa diharapkan akan berjalan dengan lebih baik, dan mahasiswa dapat menyelesaikan studinya dengan lancar, berprestasi tepat waktu yang akhirnya dapat ikut andil dalam meneruskan perjuangan bangsa menuju pembangunan Indonesia sejahtera.

Akhirnya kami mengucapkan penghargaan dan terima kasih kepada tim penyusun pedoman ini dan semua pihak yang telah membantu dalam mewujudkan buku pedoman Program Beasiswa Bidik Misi ini.

Jakarta, Desember 2009

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi

Fasli Jalal

Informasi selengkapnya silakan lihat di http://kelembagaan. dikti.go. id/index. php/component/ content/article/ 43-berita/ 388-bidik- misi#_Toc2482110 24
 

SMA Negeri 2 Balige Mendapat Sumbangan 25 unit Komputer dari PT Toba Pulp Lestari

Pada hari rabu tanggal 14 Oktober 2009, bertempat di Lapangan Upacara SMA Negeri 2 Balige, PT Toba Pulp Lestari menyerahkan 25 unit komputer kepada SMA Negeri 2 Balige. Penyerahan disaksikan oleh Bupati Toba Samosir Drs. Monang Sitorus, SH, MBA, kadis dinas pendidikan Drs. Hulman Sitorus, Ketua Komite Sekolah Sabaruddin Tambunan, Guru-Guru dan Seluruh siswa SMA Negeri 2 Balige. Sumbangan ini sebagai wujud kepedulian PT TPL terhadap pengembangan pendidikan di Kabupaten Toba Samosir. 

Kepala SMA Negeri 2 Balige Dra. Christina Sibuea, MM menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati Toba Samosir, Jajaran pimpinan PT Toba Pulp Lestari. Semoga Bantuan ini dapat menjadi pemicu bagi steak holder dalam memberikan sumbangan tenaga, pemikiran dan material terhadap pengembangan SMA Negeri 2 Balige dalam fase Rintisan SMA Bertaraf Internasional.

Terakhir Diupdate ( Jumat, 30 Oktober 2009 00:13 )
 

Pengembangan Profesi Untuk Pembelajaran Berbasis TIK

Tujuan institusional SMA ialah mempersiapkan siswa untuk hidup mandiri dan melanjutkan pendidikan ke jejang yang lebih tinggi.  Kompetensi lulusannya menunjukkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian yang mantap dan mandiri, berakhlak, berketerampilan. Setiap indikator mutu pada kompetensi yang hendak sekolah wujudkan menjadi bagian dari sasaran peningkatan mutu. Pengembangan kegiatan pembinaan selalu mengarah pada bagaimana siswa memperoleh pengetahuan sebagai dasar untuk meningkatkan daya saing agar dapat melanjutkan pendidikan dan bersamaan dengan itu mereka juga memperoleh keterampilan yang berguna untuk meningkatkan mutu hidupnya.

Poros utama yang menjadi penggerak peningkatan mutu kompetensi siswa di sekolah ialah mewujudkan tujuan institusi melalui peningkatan efektivitas suasana dan proses pembelajaran. Karena yang paling bertanggung jawab dalam melaksanakan poros kegiatan itu, yang menyebabkan roda sekolah bergerak dinamis ialah guru, maka peningkatan mutu guru menjadi fokus yang yang utama. Pembelajaran  yang efektif, kreatif dan inovatif bergantung pada seberapa kuat guru menguasai pengetahuan dan keterampilan terbaiknya.

Dalam era  teknologi informasi dan komunikasi faktor lain yang sangat berpengaruh signifikan ialah seberapa tinggi guru menguasai pengetahuan dan keterampilan menerapkan tenologi informasi dan komunikasi. Guru yang tidak mengintegrasikan diri dengan teknologi bekerja lamban, sedangkan guru yang bersinergi dengan TIK kecerdasannya dan kapasitas kerjanya akan jauh lebih besar.

Pengelolaan Pembelajaran dan Pebelajaran

Pada Sistem pembelajaran terdapat dua bidang yang perlu dibedakan. Pertama mengenai bagaimana pendidik mengelola pembelajaran. Pada komponen ini pendidik   hendaknya memahami dan dapat menerapkan fungsi-fungsi manajemen. Tujuannya bagaimana guru meningkatkan kesiapan melalui penyusunan rencana, mendisain pelaksanaan, dan mengembangkan sistem evaluasi dalam membantu siswa meningkatkan keunggulannya. Teknologi informasi dan komunikasi mendukung pelaksanaan tugas guru dari sisi dukungan administrasi akademik.

Sekolah dapat memfasilitasi guru mencapai tujuan mengajar dan bagaimana guru mengembangkan sistem perencaan KTSP, mendokumentasikan KTSP; menetapkan tujuan, indikator, target dan kriteria kinerja belajar mengajar; mengelola kelas, mengelola administrasi pembelajaran dengan dukungan sistem administrasi yang kuat. Tekonologi infomasi dan komunikasi meningkatkan keunggulan dalam mengembangkan sistem informasi manajemen pembelajaran sehingga memfasilitasi guru dan siswa  mewujudkan berbagai keunggulan yang diharapkannya.

Teknologi informasi dan komunikasi terkait erat pada bagaimana merekam, mendokumentasikan, dan menyediakan informasi sebagai bahan pengambilan keputusan dalam menetapkan kebijakan sekolah.

Terakhir Diupdate ( Jumat, 30 Oktober 2009 00:07 )
 

Membangun Kultur Mutu : Gantungkan Cita-citamu Setinggi Satelit


Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Pernyataan itu sangat populer pada tahun 1960-an — ketika penulis masih belajar di SD, guru-guru suka sekali menggunakannya–semula Bung Karno menggunakan untuk menyemangati perjuangan bangsa. Slogan yang sangat ideal,  seperti besarnya cita-cita bangsa Indonesia yang ikut menjaga ketertiban dunia. Sebagian orang menilai itu terlalu tinggi. Ada sebagian orang yang secara nyata menyampaikan sikap pesimis  seihingga muncul pernyataan yang lebih bombastis bagai pungguk merindukan rembulan.

Pernyataan  Cita-cita yang Tinggi

Secara empirik bangsa yang sudah maju sangat memahami apa artinya menggantungkan cita-cita yang tinggi. Pandangan antagonis  tentang nilai relatif tingginya cita-cita yang sesuai, didapat dari satelit, dari internet, yang menggambarkan bagaimana membangun keyakinan yang tinggi, namun  realistis.

Yang unik pikiran semacam itu kita dapatkan di Departemen Pendidikan Illinois. Mereka membangun mutu pendidikan dari penguatan keyakinan sebelum melakukan tindakan pada hal-hal yang praktis.  Penetapan standar (http://www.isbe.net /profprep/PDFs/ipts.pdf) professional pendidik dilandasi dengan tujuh keyakinan, yaitu  yakin bahwa:

  • Seluruh siswa memiliki potensi dapat mempelajari materi ajar yang disusun dengan ketat serta dapat mencapai prestasi yang tinggi.
  • Seluruh siswa terjamin mendapat lingkungan belajar yang kondusif sehingga siswa dapat belajar.
  • Seluruh siswa menadapat pelayanan belajar unggul dengan jaminan seluruh pendidik menerapkan pembelajaran berstandar dan peluang berkembangnya pengetahuan dan keterampilan siswa.
  • Aktivitas pembelajaran yang berdisiplin mengaitkan ide dengan pengalaman personal, loingkungan, dan komunitas siswa.
  • Pendidik yang professional dapat berperan dalam kelas,  bertanggung jawab dalam bekerja bekerja sama dengan profesi lain, dengan orang tua siswa, mengembangkan sekolah sebagai organisasi belajar, dan menggunakan berbagai sumber daya belajar sehingga menjadi teladan para siswa.
  • Pendidik yang professional dapat mengembangkan proses yang dinamis dari mulai perencanaan hingga melaksanakan sampai pada kegiatan memantau hasil belajar bersama sejawat dalam menerefleksikan pelaksanaan tugas berbasis ilmu pengetahuan.

Keyakinan yang berubah jadi prestasi

Pada saat mengujungi SMAN 1 Singaraja Bali, penulis ingat pernah membaca teks itu pada dokumen standar salah satu negara bagian di Amerika, Keunikan lain adalah nilai-nilai keyakinan seperti yang ditulis di Illinois, muncul dalam tataran praktis di Singaraja. Keyakinan itu tidak ditulis oleh SMA Singaraja, namun mucul dari kata-kata Nyoman Darta ketika menuturkan kebersahasilannya sebagaimana ditulis Bali Pos pada bulan Septermber 2007.

Di sekolah ini tergambarkan bagaimana menerapkan standar keyakinan pendidik dan warga sekolah. Indikator bahwa sekolah mememiliki harapan yang tinggi tergambar pada prestasi nyata yang dapat diwujudkannya.

Menurut keterangan kepala sekolah dirinya sebagai kepala sekolah meraih juara satu dalam pemilihan Kepala Sekolah berprestasi tingkat nasional untuk kelompok SMA/SMK. Penghargaan diterimanya pada  HUT ke-62 RI di Jakarta, Agustus lalu. Pada saat yang sama, seorang guru SMN 1 Singaraja Putu Eka Wilantara, S.Pd., M.Pd. juga mendapat juara kedua guru berprestasi tingkat nasional.

Wilantara adalah guru fisika yang banyak melahirkan siswa berprestasi dalam lomba-lomba fisika di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Dalam ajang kompetisi di tingkat provinsi, Iska Novi Udayani dan Ketut Ariadi mengukuhkan diri sebagai juara untuk siswa berprestasi. Iska meraih juara satu, dan Ariadi berada di tempat kedua untuk kategori siswa putra. ”Dua siswa ini tak diikutkan dalam lomba sejenis di tingkat nasional karena keterbatasan dana,” kata Darta.

Prestasi terbaru yang diaraih  siswa-siswanya dalam Olimpiade Sains tingkat nasional di Surabaya 2-8 September 2007. SMAN 1 Singaraja mengirimkan 13 peserta, yakni bidang fisika 3 siswa, matematika 4, kimia 3, biologi 2 dan astronomi 1 siswa. Dari ajang olimpiade itu, dua siswa berhasil memperoleh medali perunggu atas nama Made Adi Satria Darma di bidang fisika dan Andika Metrisiawan bidang kimia.

Yang paling prestisius adalah perolehan medali emas di bidang biologi dalam Pesta Sains yang digelar di IPB Bogor 7-9 September 2007. Atas prestasi itu, tim SMAN 1 Singaraja yang terdiri atas Kadek Yuda Prawira, Gede Wirata dan Nyoman Agus Setiawan berhak membawa pulang Piala Menteri Pendidikan Nasional yang cukup megah itu.

Pada kesempatan terakhir penulis mengunjungi  SMAN 1 Singarja tahun 2009, kepala sekolah menyampaikan bahwa tiap tahun sekolahnya meraih prestasi tingkat nasional dalam bidang karya tulis. Yang membanggakannya adalah prestasi itu diraih oleh kepala sekolahnya, pendidiknya, dan pasti oleh siswa. Di samping  itu, ada 11 siswa yang mewakili provinsi Bali yang dalam olimpiade sains tingkat nasional.

Budaya yang unik adalah dalam pengembangan sekolah berbasis data. Pengalaman saat berkunjung yang pertama ketika saya melakukan monitoring adalah data kinerja sekolah dengan menggunakan alat ukur instrument evaluasi kinerja tahun 2007, lengkap dengan laporan kemajuan yang dicapai hingga saat itu.

Data itu pula yang sekolah gunakan untuk menguatkan keyakinan. Catatan prestasi yang dapat sekolah wujudkan yang didukung dengan data perkembangan proses telah menjadi modal pengembangan semangat membangun cita-cita yang tinggi. Hasilnya kepuasan dan kebanggaan.

Sekolah Tanpa Keyakinan Yang Tinggi

Secara empirik dari hasil kunjungan ke berbagai sekolah bahwa tingkat keyakinan dalam bentuk optimisme mencapai target tinggi sangat bergantung pada tinggi rendahnya kebiasaan kepala sekolah mengumandangkan cita-citanya.

Pada sekolah yang daya bangkitnya rendah terdapat kepala sekolah yang rendah pula cita-citanya, banyak berkeluh kesah tentang sumber daya yang sekolah miliki. Pada beberapa kasus kepala sekolah tidak memiliki keyakinan yang kuat bahwa di atara sekian banyak siswanya dapat berprestasi tinggi. Ditemukan pula kepala sekolah yang berargumentasi bahwa rendahnya standar prestasi sekolah akibat dari input siswanya yang rendah juga guru-gurunya yang kurang kreatif.

Cara pandang seperti itu cenderung merata di sekolah yang menerima murid pada level bawah memiliki stigma bahwa siswa yang memiliki nilai akademik rendah kecil kemungkinannya berprestasi tinggi.

Stigma berpikir seperti itu cenderung memiliki karakter seperti virus. Kondisinya menular dengan cepat sehingga sekolah cenderung menetapkan target selalu rendah. Memiliki ketakutan untuk menetapkan target tinggi. Kondisi yang memprihatinkan ini diperparah dengan karakter umum guru. Menurut hasil penelitian (Ross Miller,  2009- http: //www. greaterexpectations.org/briefing_papers/ImproveStudentLearning.html) harapan yang selalu dikumandangkan itu berpengaruh pada prilaku guru maupun siswa.

Hasil studi Personal author, compiler, or editor name(s); click on any author to run a new search on that name.Rubie-Davies, Christine M. yang dipublikasikan pada British Journal of Educational Psychology menyatakan dengan tegas bahwa  keyakinan guru terhadap siswa dalam kelas berpengaruh pada prestasi siswa.

Stigma negative yang muncul dalam bentuk pernyataan pimpinan sekolah yang pesimistik berpengaruh pada rendahnya target mutu yang sekolah tetapkan, rendahnya keyakinan guru dan siswa yang akhirnya berpengaruh pada rendahnya prestasi siswa.

Keyakinan yang tinggi berpengaruh pada raya percaya diri, seperti atlit bulu  tangkis atau tenis, kemenangan harus diperjuangkan dalam kondisi yang sangat kritis pada adu  kekuatan fisik dan mental yang sangat ketat, saat posisi angka masing-masing sama pada mendekati game point, maka di sini  rasa percaya diri dan sekaligus keyakinan untuk menang.

Masalahnya di sini adalah “Bagaimana kita dapat mengetahui tinggi rendahnya keyakinan sekolah terhadap berbagai hal yang diprogramkannya?”. Jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah ” sekolah sebaiknya melaksanakan evaluasi”. Pengawas atau tim yang dibentuk sekolah menerapkan sistem penjaminan dengan menggunakan istrumen penjaminan budaya mutu. Instrumen itu digunakan untuk memantau  tinggi rendahnya standar keyakinan dengan tujuannya untuk mengetahui seberapa tinggi target mutu ditetapkan. Melalui hasil pemantauan itu sekolah dapat mengetahui seberapa tinggi keyakinan sekolah terhadap prestasi yang dapat pendidik dan siwa wujudkan.

 

Kesimpulan

Salah satu hal yang amat penting dalam meningkatkan standar mutu, sekolah perlu membangun keyakinan bahwa siswa, guru, bahkan kepala sekolah dapat berprestasi tinggi. Keyakinan itu harus secara sistematis dikembangkan melalui perlakuan manajemen. Tentu keyakinan yang tinggi yang tercermin pada target mutu harus didukung dengan tindaklajut pada keyakinan bahwa sekolah dapat menjadi organisasi pembelajar dan memperjuangkan pernyataan yang diyakininya dalam bentuk tindakan praktis dan realistis.

 

Sumber Biaya Sekolah, Profil Yang Buram

Pendahuluan

Pemerintah wajib menetapkan kebijakan pendidikan yang dapat menjamin pemerataan kesempatan, peningkatan mutu, peningkatan relevansi dan efisiensi manajemen. Empat pilar kewajiban penjamin mutu pendidikan tersebut wajib pemerintah jalankan agar mampu menjamin bangsa ini untuk beradaptasi dalam menghadapi tantangan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Salah satu kewajiban pemerintah yang mendukung keempat pilar utama tersebut adalah menetapkan kebijakan dan menyediakan anggaran agar pembaharuan pendidikan nasional dapat terbina secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Dalam hal ini pemerintah juga perlu menetapkan regulasi tentang siapa yang harus menanggung biaya pendidikan, mengingat tanggung jawab pendidikan terletak di tangan orang tua, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat .Berkaitan dengan sistem anggaran, hasil studi kepustakaan dari tim Universitas Maryland yang dipimpin oleh Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya menyimpulkan bahwa salah satu indikator sekolah efektif ialah sekolah yang memiliki sumber dana kuat, melakukan investasi berkelanjutan, dan mengalokasikan dana  secara efektif. (www.education.umd.edu/k-16/effective Schools.html, /09/2009).

Kekuatan sumber dana terletak pada kepastian dan kecukupan sesuai dengan kebutuhan sekolah dapat berkembang dan adaptif terhadap perubahan jaman sehingga menjamin lulusan dalam bersaing dalam kehidupan lokal, nasional dan global.

Orang Tua Sebagai Sumber Anggaran Yang Kuat

Sejarah membuktikan bahwa orang tua siswa merupakan sumber dana yang kuat. Besarnya kekuatan itu menunjukkan daya dalam menopang percepatan pembaharuan pada beberapa sekolah swasta yang telah mampu mengelola mutu sehingga dapat menjadi pengharapan bagi masyarakat berada. Perkembangan ini terjadi sampai tahun 1980-an, dimana di berbagai kota terdapat sekolah swasta tempat berkumpulnya masyarakat berada dengan tingkat partisipasi pembiayaan orang tua siswa yang terus meningkat.

Terakhir Diupdate ( Jumat, 30 Oktober 2009 00:08 )
 

Rintisan SMA bertaraf Internasional bukanlah pembaharuan internasionalisasi pendidikan RI

     Program Rintisan SMA bertaraf internasional, bukan merupakan proses pembaharuan internasionalisasi pendidikan RI. Rintisan SMA bertaraf internasional adalah pendidikan Republik Indonesia dengan menggunakan KTSP dengan keunggulan: (1) Lulus UN dengan meraih nilai UN lebih daripada kriteria standar nasional (2) dapat diterima pada perguruan tinggi terkemuka dalam negeri dan luar negeri karena kompetensi lulusannya berdaya saing internasional, (3) siswa RSBI dapat meraih prestasi dalam lomba akademik dan non akademik pada taraf internasional dan internasional (4) siswa rsbi mampu berkolaborasi pada taraf internasional karena memiliki kompetensi yang cukup dalam penguasaan bahasa Inggris maupun IT sebagai modal dasar pada interaksi dalam ruang ligkup global.    

      Berdasarkan tujuan itu, dapat dikemukakan bahwa arah pengembangan sekolah bukan untuk mendapatkan sertifikat internasional, melainkan mutu lulusan memiliki mutu yang setaraf dengan lulusan yang bersertifikat internasional. Menurut beberapa penelitian di berbagai negara, sekolah ifektif melakukan kerja sama dengan para pakar yang dapat memfasilitasi agar mencapai empat harapan utama di atas. Konsultan IGCSE tidak dapat disamakan dengan konsultan pendidikan nasional bertaraf internasional, kecuali secara personal konsultan IGCSE dapat memenuhi kebutuhan pengembangan mutu yang relevan dengan tujuan RSBI.

      Jika mutu proses pengelolaan yang SMA sekayu secara empirik telah memenuhi standar yang diharapkan, serta mutu peserta didiknya lulus UN dengan nilai lebih tinggi daripada standar nasional pendidikan, lulus ke perguruan tinggi terkemuka melebihi target, telah memperoleh prestasi dalam berbagai bidang akademik bertaraf internasional dan internasioknal, dan mampu siswa mampu berkolaborasi bertaraf iternasional, maka secara empirik pula fungsi fasilitator telah tidak diperlukan lagi karena telah dapat peningkatan mutu telah ditangani secara mandiri.

 

 


Halaman 1 dari 4

Komentar Terbaru

Shoutbox



Who's Online

Terdapat 1 Tamu online